Aku mencintai sahabat suamiku

Aku malu menceritakan hal ini, bagai membuka aib. Tapi menyimpan semua ini sendiri hanya akan semakin menyiksa… Aku harus menceritakannya, mungkin setelah ini hatiku bisa sedikit lega.

Namaku Jessy, sudah 3 tahun ini aku bekerja di salah satu lembaga swasta di kota maumere. Orang tuaku masih lengkap, mereka Muslim, tapi aku dibesarkan oleh nenekku. Dan karena orangtuaku begitu menyayanginya, mereka rela aku dipermandikan sebagai Katolik sejak lahir, ikut nenekku.

Cerita berawal dari 5 tahun yang lalu, bulan Agustus 2004 saat aku bertemu dengan suamiku.. Namanya Tomy, dia pendatang dari sumatera. Kami dikenalkan oleh seorang saudara. Tomy orang yang baik dan menyenangkan. Tak banyak bicara dan penyayang. Usianya lebih tua setahun dariku. Aku tidak tau apa aku suka padanya, tapi setelah hari itu kami kerap bertemu.

Kami mulai berhubungan serius di bulan Desember 2004, padahal waktu itu aku mulai sadar bahwa hubungan kami pasti tidak direstui karena Latar Belakang dan Agama yang berbeda. Asal tau saja, aku tumbuh di tengah keluarga Katolik tulen dan keluargaku adalah salah satu dari sedikit keluarga di kota ini yang terlalu kolot dan kaku.

Tapi akhirnya tanpa restu keluarga, terutama nenek, kami menikah secara Protestan mengikuti agama suami pada bulan April 2005. Aku tahu telah mengecewakannya, padahal ia begitu berharap padaku. Kemudian lahirlah putri kecilku, Rheyna. Pada dasarnya, aku sama sekali tidak tahu tentang suamiku, sifat, masa lalu dan keluarganya seperti apa aku tak pernah tau. Toh kami jauh dari keluarganya, dan sampai anakku lahir orang tuanya baru tahu tentang pernikahan kami.

Aku tidak tahu seperti apa tanggapan keluarganya saat itu, yang jelas kemudian mereka menerima kami. Hanya nenek dan seluruh keluargaku tidak bisa menerima aku kembali. Aku tidak bisa hidup tanpa keluargaku, terutama nenek, mereka terlalu berarti. Untungnya Tuhan masih sayang padaku, setahun setelah kelahiran anakku, baru nenek menerima kami. Otomatis seluruh keluarga kembali kepadaku. Tak terkira betapa bahagianya aku. Nenek tak pernah lagi mengungkit kekecewaannya, malah ia sama seperti dulu, selalu mencintai dan bangga padaku.

Setelah 2,5 tahun berlalu, baru aku tahu seperti apa masa lalu suamiku sebenarnya. Dia lebih dari sekedar pemabok, dia juga suka ‘main’ pelacur. Memang itu cuma masa lalu, tapi aku tidak bisa menerima dia berbohong selama itu… Yang jadi persoalan adalah prilaku di masa lalunya itu membawa penyakit dalam rahimku. Terlalu rumit buatku memahami alasannya bahwa semua itu hanya ‘gejolak masa muda’ yang tak terkendali. Apa itu bisa dibenarkan? Betapa egoisnya!!
Tapi aku menerima semua itu, dengan pikiran dia telah berusaha meninggalkan semua setelah menikah. Namun setelah 3 tahun pernikahan kami, aku tahu dia menjalin hubungan dengan teman kantornya. Entah sudah berapa lama. Tapi aku melihat sendiri keakraban mereka. Saat itu dia janji akan menjauhi gadis itu, tapi hanya berkisar 6 bulan setelahnya aku melihat mereka bersama lagi. Mesrah sekali! Aku marah besar, dia lalu minta maaf dan berjanji tidak mengulangnya lagi.

Memang setelah itu hubungan kami membaik dan aku memaafkannya. Tapi rasa percaya itu sudah tidak ada lagi. Bagaimana sebuah Rumah Tangga bisa dibangun tanpa rasa percaya? Yang ada hanya Curiga dan Kemarahan. Aku selalu berpikiran yang tidak2 kalau dia tugas keluar atau pulang lembur sampai larut malam. Memang kami tinggal dalam kompleks kantornya, tapi segala sesuatu bisa terjadi.

Suamiku sudah terlalu banyak memberiku kejutan selama ini. Mungkin karena curiga yang berlebihan membuatku selalu menuduh dan membentaknya. Awalnya dia diam saja menerima kemarahanku, tapi seiring berlalunya waktu dia berubah jadi pemarah, balas menyerangku. Dia tidak terima dicurigai terus. Aku tau itu benar, tidak enak hidup dalam kecurigaan dan tuduhan, tapi aku tidak bisa melupakan begitu saja semua kebohongan dan pengkhianatannya. Aku meninggalkan segalanya untuk dia, tapi yang kudapat hanya kesedihan. Aku tidak menuntut dia menyediakan segalanya bagiku, tapi paling tidak buat aku bahagia… Egoiskah aku?

Semakin hari pertengkaran kami semakin menjadi-jadi. Aku lelah. Tidak ada yang mau mengalah. Hal kecil saja bisa membuat kami tidak bicara berhari-hari. Aku kasihan dengan Rheyna, di usianya yang baru 4 tahun harus melihat kedua orangtuanya yang tak pernah akur. Entah seperti apa hidupnya kelak, aku tak berani membayangkannya. Aku marah dengan hidupku, aku tidak bisa keluar dan melupakan begitu saja semua persoalan ini. Tidak tahu kemana harus mengadu. Aku malu pada keluargaku karena dulu aku mati-matian membela dia.

Setahun yang lalu nenekku meninggal. Tak terkira betapa hancurnya perasaanku. Hanya dia pegangan hidupku. Orang yang akan selalu membelaku dengan penuh cinta. Aku sangat kehilangan. Dan suamiku, dia mungkin bukan suami yang baik, tapi dia ayah dan saudara yang baik. Dia selalu baik pada keluargaku. Apapun dilakukannya jika keluargaku butuh bantuan. Sehingga seluruh keluarga menyukainya. Tapi padaku, dia bisa saja baik hari ini tapi besok dia mulai memacu adrenalinku dengan segala macam cara.

Kami memang kelihatan seperti keluarga kecil yang bahagia dan sempurna. Kemanapun kami selalu bersama. Jalan-jalan di sore hari untuk menyenangkan putri kecilku, menghabiskan akir pekan di pantai atau sekedar menghadiri pesta keluarga/kenalan bertiga. Tapi itulah kami, hanya tinggal menunggu waktu untuk bertengkar dan bermusuhan lagi. Sama sekali tidak wajar karena bisa setiap hari itu terjadi. Mungkin kami sama2 sudah tidak saling mencintai lagi. Tapi apakah semudah itu perasaan ini menghilang? Sedangkan kami mengawali hubungan ini dengan derita dan air mata, sangat susah.

Seminggu yang lalu dia menamparku 2 kali hanya karena aku tidak mendengarkannya. Sudah seburuk itukah hubungan kami? Sampai harus diselesaikan dengan kekerasan? Tapi tidak selesai juga kan, malah memperpanjang persoalan. Aku betul2 tidak bisa bersabar lagi. Aku ingin meninggalkannya, aku tidak bisa bertahan hidup dengan laki2 egois dan sudah menyakitiku bukan saja batin tapi juga fisik. Tapi aku kasihan anakku. Akhirnya kuputuskan tetap tinggal bersamanya hanya pisah kamar. Aku membiarkannya mengurus dirinya sendiri. Aku tak peduli lagi dia mau kemana dan untuk apa.

Ditengah-tengah semua itu, 3 bulan lalu aku bertemu dengan seseorang, teman kantor suamiku hanya dia jauh lebih muda. Sekitar 5 tahun di bawah kami. Namanya Iwan. Kalau mau dilihat dia tidak punya kelebihan apa2 dibanding suamiku. Tapi entah kenapa diantara begitu banyak temannya aku menyukai Iwan.

Awalnya aku hanya suka melihatnya karena dia mirip seseorang dari masa lalu. Tapi semenjak dia kos di rumah keluargaku dan kami selalu bertemu, perasaan ini makin berkembang. Aku melihatnya dimanapun aku berada. Ia bahkan tinggal dalam hati dan pikiranku. Dan akhir2 ini ia hadir dalam mimpiku. Ia tahu aku suka padanya, aku pernah mengatakannya tidak secara langsung, karena kami berteman di dunia maya (kau mengerti kan?).

Dari obrolan kami, aku tau dia orang yang cuek dan blak-blakan. Aku yakin ia tidak tertarik padaku, mungkin karena aku sudah menikah dan suamiku adalah teman kerjanya, apalagi dia tinggal dengan keluargaku. Tapi semua itu tidak merubah perasaanku. Aku sudah berusaha menghindari dia dengan tidak berhubungan lagi, sebenarnya hubungan kami hanya sekedar teman biasa, mengobrolpun seperlunya saja. Tapi aku takut semakin banyak bicara dengannya, aku semakin tidak realistis. Dan hasilnya sama saja, aku masih terbayang2 dia. Aku malah tidak bisa menghapusnya dari ingatanku.

Tuhan, ada apa ini? Aku wanita yang sudah berkeluarga, kenapa aku mencintai orang yang bukan suamiku? Apalagi cobaan yang akan Kau hadapkan padaku?
Aku bingung dan ketakutan dengan perasaanku sendiri. Bagaimana aku mengakhiri perasaan ini dengan situasi rumah tangga yang sudah sangat memburuk.

Untuk saat ini yang ingin kulakukan adalah kembali kepadaMu. Sekian tahun menikah dan pindah agama, aku tidak menemukan jiwaku disana. Malah begitu besar kerinduanku untuk menerima Sakraman Komuni suci lagi. Bantu aku mempermudah semua ini Tuhan….. Turunkanlah Roh KudusMu, terangilah akal dan budiku.. supaya apapun yang akan kulakukan nanti benar2 sesuai dengan kehendakMu.

Pesanku buat teman2, jangan menikah karena alasan yang kamu sendiri tidak yakin itu apa. Jangan tinggalkan keluarga dan agama yang telah membesarkanmu tanpa memastikan arah hidup yang kau pilih. Dengarkanlah nasihat orang2 yang mencintaimu sejak kau masih dalam kandungan dan jangan pernah menukarnya dengan janji seseorang yang baru saja kau kenal di usia mudamu. Semoga berhasil.. Tuhan memberkati….

BY : JESSICA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s