Oh Ayah dan Ibu

Aku seorang penghuni bumi ini tanpa tahu apa arti dan tujuanku ada di dunia. Kehilangan serta kehampaan yang kurasakan bertahun-tahun selalu membuatku berpikir:
Apakah cinta yang abadi itu ada untukku?
Apakah kehadiranku ini atas nama cinta atas nama kepalsuan?
Dan jikalau aku hadir atas dasar cinta kenapa harus cinta itu yang membuatku menderita? Bertahan demi cinta memang sangat tersiksa, bagaikan merangkak diatas beling hanya untuk mendapatkan setangkai mawar.

Ibu…………………..Ayah…………………….
…………Apakah cinta itu yang telah menjadikan aku ada hingga saat ini harus hilang sia-sia?

Ibu…………………….
Apakah kehadiranku ini hanya membuatmu tersiksa hingga ibu tega membuatku membenci cinta itu?

Ayah………………..
Apakah cintamu hanya sebatas ini untuk kami? Meninggalkan aku yang masih sangat membutuhkan mu? Meninggalkan aku yang masih sangat polos, begitu putih, bersih dengan tangisan mungil yang begitu melengking?
Aku masih begitu kecil, badanku masih merah, aku masih harus berbaring di atas kasur yang lembut, tapi ayah tega membalikan badan, berpaling serta membagikan cinta kepada orang lain. Apakah hadirku adalah bencana untukmu……..Ayah……….? Aku memang masih sangat kecil untuk mengetahui semuanya itu, tetapi tetes demi tetes air mata ibu membuatku merasakan perlahan-lahan duka yang ternyata begitu pedih.

Berawal dari saat itu, sosok seorang ayah mulai terasa asing bagiku. Jejak langkah terasa mulai menghilang dan menjauh dari kehidupan kami. Aku………dan Ibuku………………
Beriringan……………..sikap ibuku yang perlahan-lahan mulai berubah, ya………………… entah karena terlampau sakit akibat kepergian ayah yang sengaja atau mungkin bosan dengan kehidupan yang serba biasa-biasa saja.

Dengan kebesaran Allahku, dia mengutus seorang biarawati yang baik dengan cintanya yang tulus aku digiring ke sebuah panti asuhan, membawaku jauh dari rumahku yang terlampau getir tuk dipijaki, tak ada naungan cinta sama sekali disana. Membawaku pergi jauh meninggalkan ibuku.

Aku hidup dalam sebuah kehidupan yang masih terasa asing buatku bergaul dengan orang-orang yang mungkin nasibnya tak beda jauh dengan nasibku. Itulah dunia baruku.
Waktu membawaku pergijauh dari kegetiran itu, tapi terlampau sulit bagiku untuk mengubur kisah itu dalam-dalam.
Kabar pahit harus ku terima lagiSaat sekian lama menjauh dari telingaku. Ibu telah mendapatkan pengganti ayah. Mungkin karena itulah ibuku mulai melupakanku.

Kehidupan ini bagaikan neraka bagiku. Ibuku dengan atau tanpa sengaja telah membunuh cintanya untukku dengan menjalani kehidupannya yang baru. Penderitaan demi penderitaan harus kujalani.
Inilah penderitaan baru untukku: ayahku harus terganti dengan orang lain, posisinya dalam hatiku bergeser dengan kehadiran ayah baru.

Tapi entahlah hati kecilku begitu berat untuk menerima itu semuanya. Terlalu berat. Kata, sapaan ayah untuk dia terasa sangat berat tuk kuucapkan. Tapi mengapa ibu mengapa begitu memaksakan aku untuk menyapa dia ayah? Kenapa juga ibu harus berganti cinta? Ataukah ibu telah melupakan cinta yang telah mengadakan aku? Hiduo ini memang susah ditebak. Kadang manis, kadang juga pahit. Tapi bagiku hidup ini tak pernah ada manis-manisnya, selalu saja pahit yang terasa.

Menderita karena ditinggal pergi ayah
Kesepian karena tak pernah merasakan kasih sayangnya
Tersiksa harus menjalani hidup terpisah dengan ibu
Dan kini harus berusaha menerima ayah baru………
Semuanya terasa begitu getir ………………..

Hidup di gubuk orang, besar dilingkungan yang begitu sederhana dan dengan sesuap nasi hasil belas kasihan orang membawaku tapak demi tapak, melangkah dengan sejuta perih dihati hingga kian hari kian dewasa. Hingga kini aku bisa merasakan indahnya hidup dalam lingkungan sekolah, memiliki sahabat-sahabat yang begitu baik padaku. Aku seperti merasa memiliki dunia yang rasanya ini adalah anugerah terindah.
Tapi kasih saying seorang ayah untukku, bagaikan sebuah bintang yang terlampau jauh tak ku raih. Bgaikan mimpi yang hanya indah dirasakan semalam.

Aku “Angel” anak terbuang dari kepalsuan dan kemunafikan cinta. Kita bernafas hanya untuk berjuang demi memperoleh cinta yang tak pernah berkesudahan.
Dan dengan naungan Allahku yang mencintaiku dengan cintaNya pula aku tetap bertahan tuk menghapus segala rasa benci untuk cinta itu, karena mungkin inilah adaku dengan keadaan yang ada karena ada cinta dari orang tuaku. Meskipun cinta itu terlampau perih dan sakit ku kecapi.

Terahkir ……………….
Inilah kisahku……….
Kisah mendalam yang telah kulewati
Berpisah dengan ayah dan ibu
Meninggalkan gubukku dimana tempat ibuku menjerit
Menangis kesakitan karena getirnya cinta
Ayah…………………..

Dimanakah dirimu
Senyuman, cinta, canda dan tawamu…………selalu kurindukan
Dalam heningnya malam, ku harap kau bisa
Kembali menjamahku yang adalah buah dari pohon cintamu.

Meskipun semua…………….cinta dan kasih sayangmu, terasa asing bagiku tapi kau tak pantas tuk digantikan.
Karena hanya dengan cintamu kini aku ada dengan secuil harapan yaitu :”memandangmu”.

By: Lintasan Smansa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s