Menolak takdir merangkul cinta

Tulisan ini ku mulai dengan sebuah pertanyaan “apakah aku memang menolak takdir ?”. Takdir mmepertemukan aku dengan kisah cinta masa laluku. Tetapi, semuanya tidak lagi seperti dulu. Kini, cintaku itu telah bersama orang lain. Tetapi jujur, aku belum rela jika ia bersama orang lain. Aku masih ingin merangkul ia erat-erat dan tak ingin ku lepaskan. Apakah aku memang menolak takdir ?

Sekitar sebulan yang lalu, aku kembali bertemu dengannnya. Raut kegembiraan nampak dalam wajahku maupun wajahnya. Tetapi, semuanya tidak seperti dulu. Kini, disampingnya telah berdiri tegak sesosok lelaki yang menjadi tempat ia bersandar. Itulah suaminya. Tidak hanya itu. Dua bocah cilik yang masih lucu seolah semakin melengkapi kebahagiaan dirinya. Itulah anak-anaknya.

Pertemuan ini kembali membangkitkan sejuta kerinduan terpendam. Walaupun aku tahu, rindu itu adalah rindu terlarang. Tetapi, apakah memang aku tidak boleh merindukannya, hanya karena ia telah menjadi milik orang lain. Apakah aku tidak boleh menyayanginya lagi ? jadi, apakah aku harus membenci dan melupakannya ?

Sekitar sebulan ini, kami sangat intens berkomunikasi. Mendengarkan ia bercerita, mengharukan seisi ruang dalam hatiku. Bagaimana tidak ? Ceritanya menunjukkan jika ia pun masih menyayangiku hingga saat ini. Selama tujuh tahun kami berpisah dan terputus komunikasi, setiap harinya ia masih mencariku. Ia selalu menghubungi no telpon rumahku. Ia masih selalu mengisi buku hariannya dengan namaku. Bahkan ketika ia ia akan menikah, ia masih mencariku. Ketika ia akan melahirkan anak pertamanya, yang ia ingat adalah aku. Ia bubuhi nama anak pertamanya itu dengan sepenggal namaku. Selama tujuh tahun itu, ia selalu berdoa agar bisa dipertemukan lagi denganku. Dan akhirnya kami pun bertemu kembali. Semua surat dan pemberianku untuknya, masih selalu ia simpan rapi sebagai kenangan akan aku.

Jika ia mendengarkan ceritaku ini, aku hanya ingin mengungkapakan rasaku ini melalui sebaris puisi sederhana, yang menyeruak dari dalam hatiku

Waktu mendendangkan lagu perjumpaan
Kepada hati yang hilang disudut-sudut masa lalu
Saat kembali bercerita hanya pada ruang semu
Ada rindu terhampar luas diladang maha cinta

Dengarlah malam selalu membisikkan kerinduan
Bebaskan jiwa berlari menuju bayang-bayang indah
Mengejar makna asmara kepada hati yang hilang
Sebelum langit menyelimuti lelahnya raga

Ketika esok embun pagi menyapa lembut raga
Bangunkan diri bersua dengan hati yang hilang
Terasa bahagia mengisi penuh dahaga sang jiwa
Hingga mentari pun datang dengan tersenyum

Dhyani,….
Doamu dengan berjuta tetesan air mata itu
Mengembalikan lagi cintaku padamu
Memajang kembali hatimu pada etalase cintaku
Tapi hanya kau

Dhyani,…
Doamu pada malam-malam penuh derita hati
Membangunkan untaian potret kenangan ini
Mencari jejakmu pada desir-desir angin sepoi
Hingga ku temukan kau disini

Dhyani….
Doamu saat kabut kelabu hati melanda
Selaraskan senandung hati yang kita rasa
Dilorong-lorong kerinduan kita berjumpa
Kembali menggali asa bersama

From Dani
To My beloved Dhyani WR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s