Ku bawahkan cintaku berlalu bersama sang waktu

Ku tulis kisah ini saat bersedih, mengenang dia yang tak mungkin lagi dapat ku miliki. Dia adalah masa laluku, dia adalah cinta pertamaku yang pernah mengisi lembaran kisah hidupku. Kisah bersamanya merupakan seuntai permata zamrud yang indah, yang menghiasi ruang terdalam hatiku.

Namanya Diana. Seorang wanita cantik, teman sekelasku sembilan tahun yang lalu, disalah satu SMA terkenal di Maumere. Sebenarnya, kami tidak lama menjalin percintaan. Hanya sekitar enam bulan, kami bisa bersama-sama tertawa dan bersedih. Setelah itu, perpisahan itu datang menghampiri kami. Setelah kelulusan kami, ia meninggalkanku pergi ke pulau seberang mengejar cita-citanya.

aku sangat sedih. Pelabuhan Sadang Bui jadi saksi, ketika dengan ikhlas aku harus merelakan ia pergi jauh dariku. Aku tak bisa lagi melihat wajah cantik itu lagi. Aku tak bisa lagi melihat ia tersenyum. Aku tak bisa lagi melihat ia bersedih. Aku hanya bisa mendengar suaranya melalui satu-satunya alat komunikasi waktu itu, telpon. Lewat alat itulah, kami masih bisa menjalin komunikasi yang intens, walaupun diri ini merasakah kehampaan yang sangat akibat hubungan jarak jauh ini.

Dalam kehampaan itu, aku menerima kabar yang menggembirakan. Aku diterima disalah satu Seminari Kelas Persiapan Atas; sekolah untuk para calon gembala umat. Aku senang sekali. Memang, aku punya keinginan yang kuat waktu itu untuk menjadi seorang gembala umat. Tetapi, disaat yang bersamaan pula, aku sebenarnya masih menjalin hubungan khusus dengan Diana, pacarku itu. Bahkan ketika aku masuk dan menjadi siswa seminari kelas persiapan atas itu, aku pun masih menjalin hubungan dengannya. Selama dua tahun di seminari, hubungan kami masih berjalan dengan lancar. Setiap bulan, aku selalu mengirimkan surat untuknya begitu pun dia.

Setelah dua tahun menjalani pendidikan di seminari, saatnya aku harus membuat lamaran untuk masuk kongregasi, ordo, atau biara yang aku inginkan. Aku memilih salah satu biara yang berlokasi di Yogyakarta. Surat lamaran ku buat, dan balasan yang ku dapat adalah aku diterima masuk biara itu. Tetapi, ada satu hal yang mengganjalku waktu itu. Bagaimana dengan dia ?

Sebenarnya Diana tahu keinginanku untuk masuk biara. Selama kami berhubungan aku selalu menceritakan itu padanya. Ia bisa menerima hal itu, karena bagi dia akan sangat membahagiakan jika orang yang ia cintai menjadi alat Tuhan dalam mewartakan kabar gembira Tuhan. Tetapi, aku merasa alasan yang ia berikan itu hanya sebagai pengalih dari perasaan ia yang sebenarnya. Aku tahu, ia merasa sakit dan sungguh menderita dengan keputusan yang aku ambil.

Detik-detik terakhir sebelum aku memasuki biara, aku sempat menelpon Diana, hanya ingin mengatakan padanya agar tak usah menungguku. Aku menginginkan ia mencari orang lain yang lebih baik dariku dan mampu membuatnya bahagia. Kata-kataku itu membuatnya sedih. Suara tangisannya membuat pilu hatiku, seakan ingin menarik kembali ucapan yang telah aku ungkapkan. Tetapi, keputusan telah aku buat. Aku harus terus melangkah ke depan, apapun resikonya. Memory, saat itu aku baru tersadar, bahwa aku telah kehilangan cintaku yang selama dua tahun ku jaga dengan segenap tenagaku, walaupun jarak harus memisahkan kami.
Selama di biara, aku dan Diana tidak pernah lagi berhubungan dan berkomunikasi. Tetapi, kenangan akan dirinya tetap tidak bisa terhapus. Disaat ulang tahunnya, tepatnya tanggal 8 Maret aku selalu membuat doa khusus untuk dirinya. Bahkan didalam doa-doa pribadiku, selalu ada doa yang ku panjatkan untuknya, agar ia selalu dilindungi Tuhan dan hidup bahagia selalu.
Perjalanan panggilanku di biara hanya bertahan selama dua tahun. Bulan Mei tahun 2004, aku resmi keluar dari biara. Aku pun memilih pulang ke kampung halamanku, Maumere, untuk sejenak beristirahat. Di bulan Mei 2005, aku kembali menuju Yogtakarta untuk melanjutkan melanjutkan kuliah, disalah satu perguruan tinggi swasta di kota pelajar itu. Dimasa-masa kuliah itu, keinginan untuk kembali menjalin komunikasi dengannya begitu besar. Perkenalanku dengan dunia maya, memudahkan aku untuk mencari dirinya, walau pun mungkin hal itu sama seperti mencari jarum yang jatuh dalam air yang keruh. Hingga, aku kemudian menemukan sebuah titik terang.

Kira-kira sebulan yang lalu lewat situs pertemanan Facebook, aku berkenalan dengan seorang gadis, sebut saja namanya Nona, lewat media chating. Aku memang sengaja berteman dengan Nona, karena aku tahu Nona berasal dari daerah yang sama dengan Diana. Lewat Chating aku menanyakan pada Nona, apakah ia mengenal Diana. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Nona mengenal Diana. Ia katakan padaku bahwa Diana kini menjadi guru disalah satu sekolah di Maumere. Oh..betapa bahagiannya diriku mendengar hal itu. Bahkan beberapa minggu kemudian, Nona memberikan no HP Diana. Aku semakin senang dan bahagia. Setelah tujuh tahun tak ada komunikasi, kini sepertinya komunikasi itu akan kembali terwujud.

Tanggal 20 Oktober 2009 aku memberanikan diri menelpon Diana. Jujur, jantungku berdetak kencang waktu itu. Diseberang sana, mulai terdengar suara lembut seorang wanita. Ya, itulah suara Diana. Suara yang masih sama seperti dulu. “Mengapa baru sekarang memberi kabar ?”, suara Diana memecah keheningan kami. Aku terkejut dengan pertanyaan itu. Pertanyaan itu seolah ingin mengungkapkan hal yang tersirat bahwa selama ini aku menunggu dirimu memberi kabar padaku, tetapi mengapa engkau tak memberi kabar. Aku punya alasan untuk itu. Aku memang tak bisa memberi kabar karena aku tak tahu dimana alamatmu dan dimana pula engkau kini berada. Tetapi, percayalah, dalam kehilangan itu, aku masih tetap menyayangimu dan mencintaimu.

Rasanya aku harus segera mengubur rasa cintaku. Diana mengatakan padaku, bahwa ia kini telah bersuami dan memiliki dua anak dari hasil pernikahannya. Lagi-lagi aku terkejut. Tetapi bukankah dulu aku sendiri yang mengatakan padanya untuk mencari pengganti diriku. Lalu untuk apa aku terkejut ? Untuk apa aku menyesal. Aku tak ingin menyesali itu.

Setelah tanggal 20 Oktober itu, hingga saat ini kami masih saling berhubungan. Lewat telpon, kami masih bisa saling bercerita berbagai peristiwa dan kenangan yang pernah kami alami bersama. Diana bercerita padaku , bahwa sejak putus komunikasi denganku, ia tak henti-hentinya mencariku. Bahkan, sehari sebelum ia menikah ia masih mencari alamatku. Ia datangi tenmpat kerjanya yang lama, berharap ada selembar surat atau kiriman dariku. Tetapi tak ada. Harapanya sirna. Ia pun menikah. Beberapa waktu kemudian, ia melahirkan anak pertamanya dengan suatu proses yang sulit. Ia harus menunggu selama tiga hari di rumah sakit hingga anaknya bisa terlahir dengan selamat. Ada kepercayaan yang mengatakan bahwa jika anak belum bisa lahir tepat pada waktunya itu berarti ada sesuatu dimasa lalu yang belum terselesaikan. Karena itu, dihari ketiga, ia berdoa meminta pada Tuhan agar anaknya bisa terlahir dengan selamat. Tidak lupa, ia selalu menyebut namaku dalam hatinya. Setelah berdoa dan menyebut namaku, anak pertamanya pun lahir. Karena itu, untuk mengenang aku ia menyelipkan sepenggal namaku pada nama anaknya.

Bukan itu saja. Untuk membuktikan rasa cintanya yang besar padaku, setiap hari sejak tahun 2000 hingga sekarang, dalam buku hariannya ia selalu menulis tentang diriku dan perasaannya padaku. Setiap hari pula ia selalu berdoa, agar suatu saat bisa bertemu denganku. Dan doanya ini terkabul. Kini ia telah bertemu denganku, walau pun hanya lewat telpon.

Kini, hubungan yang bisa dikatakan perselingkuhan ini telah berjalan selama sebulan. Beberapa orang terdekat kami menentang hubungan kami ini. Aku pun merasakan, hubungan yang kami lakukan ini tidak wajar. Ada perasaan bersalah yang menghinggapi diriku. Perasaan bersalah yang dialamatkan pada suaminya, serta anak-anaknya. Aku merasa aku telah mengambil hati istri dan ibu mereka. Tetapi, disisi lain, Diana juga menginginkan hubungan ini. Ia masih mencintaiku. Ia masih merindukanku. Aku tidak tega jika hubungan ini kemudian aku putuskan kembali. Aku tidak tega membuat Diana sakit dan menderita lagi karena aku. Aku ingin selalu ada buatnya saat ini, walaupun aku sudah tak bisa lagi memilikinya secara utuh.

Bagaimana pun juga, hubungan ini memang salah. Saat ini, aku masih menganggap Diana sebagai kekasihku. Aku belum bisa menjadikannya hanya sebagai sahabaat biasa. Karena itu, aku dan Diana sepakat untuk melakukan satu hal; memutuskan komunikasi pada awal tahun 2010, tepatnya tanggal 1 Januari 2010. Ide itu sebenanrnya berasal dariku. Aku menginginka untuk tidak berhubungan lagi dengannya selama setahun, terhitung mulai tanggal 1 Januari 2010. Aku berharap dengan tidak berkomunikasi selama setahun bisa membuat rasa ini perlaha-lahan hilang. Diana sangat mengerti dan setuju dengan ideku, walau sebenarnya ia merasakan sakit yang dalam. Batinnya menderita. Ia tersiksa. Ia hanya mengatakan padaku “Berilah aku kesempatan untuk bersamamu disisa waktu yang ada. Selebihnya, biarlah ku bawa cintaku ini berlalu bersama waktu. Akan ku coba melepas dirimu di penghujung tahun. Engkau harus tahu Dani, namamu akan selalu terukhir abadi dalam hatiku “.

By : Dani

One thought on “Ku bawahkan cintaku berlalu bersama sang waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s